Kenapa Kue Terakhir di Tongkrongan Sering Tidak Ada yang Mengambil?
![]() |
| Kue Nasi Jaha tinggal satu. |
Di sebuah tongkrongan, biasanya ada makanan yang diletakkan di tengah meja. Semua orang mengambil tanpa banyak berpikir.
Sampai akhirnya tinggal satu potong.
Anehnya, tiba-tiba tidak ada yang mengambil.
Padahal beberapa menit sebelumnya, semua orang terlihat begitu menikmati makanan itu.
Lalu muncul perilaku yang menarik:
“Ambil aja, masih ada satu.”
“Nggak, kamu aja.”
“Udah, buat kamu.”
Akhirnya kue itu tetap berada di piring.
Kelihatannya sepele. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang menarik tentang manusia di situ.
Kita sering lebih mudah mengambil ketika sesuatu masih banyak, karena tidak merasa sedang mengambil jatah orang lain.
Tapi ketika tinggal satu, situasinya berubah.
Kita mulai berpikir: “Kalau aku ambil, nanti yang lain mau bagaimana?”
“Jangan-jangan ada yang sebenarnya mau.”
“Nanti dikira rakus.”
“Lebih baik tunggu orang lain.”
Dan akhirnya semua menunggu.
Makna yang bisa dibawa
Kue terakhir itu bisa menjadi metafora tentang cara manusia mempertimbangkan keberadaan orang lain.
Kadang kita bukan tidak menginginkan sesuatu.
Kita hanya terlalu sibuk memastikan orang lain tidak merasa kehilangan karena kita mendapatkannya.
Menariknya, pola yang sama bisa muncul dalam kehidupan:
Kita ingin menyampaikan pendapat, tapi takut membuat orang lain tidak nyaman.
Kita ingin mengambil kesempatan, tapi takut dianggap egois.
Kita ingin mengatakan “tidak”, tapi takut mengecewakan.
Kita ingin memilih sesuatu untuk diri sendiri, tapi terlalu lama memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain.
Dan seperti kue terakhir itu...
akhirnya tidak ada yang mengambil.
Bukan karena tidak ada yang mau.
Tapi karena semua orang menunggu orang lain mengambilnya terlebih dahulu.
