Kue Nasi Jaha tinggal satu.

‎Di sebuah tongkrongan, biasanya ada makanan yang diletakkan di tengah meja. Semua orang mengambil tanpa banyak berpikir.
‎
‎Sampai akhirnya tinggal satu potong.
‎Anehnya, tiba-tiba tidak ada yang mengambil.
‎
‎Padahal beberapa menit sebelumnya, semua orang terlihat begitu menikmati makanan itu.
‎
‎Lalu muncul perilaku yang menarik:
‎“Ambil aja, masih ada satu.”


‎“Nggak, kamu aja.”


‎“Udah, buat kamu.”
‎
‎Akhirnya kue itu tetap berada di piring.


‎Kelihatannya sepele. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang menarik tentang manusia di situ.
‎
‎Kita sering lebih mudah mengambil ketika sesuatu masih banyak, karena tidak merasa sedang mengambil jatah orang lain.
‎
‎Tapi ketika tinggal satu, situasinya berubah.
‎
‎Kita mulai berpikir: “Kalau aku ambil, nanti yang lain mau bagaimana?”


‎“Jangan-jangan ada yang sebenarnya mau.”


‎“Nanti dikira rakus.”


‎“Lebih baik tunggu orang lain.”
‎
‎Dan akhirnya semua menunggu. 


Makna yang bisa dibawa

‎Kue terakhir itu bisa menjadi metafora tentang cara manusia mempertimbangkan keberadaan orang lain.
‎
‎Kadang kita bukan tidak menginginkan sesuatu.
‎
‎Kita hanya terlalu sibuk memastikan orang lain tidak merasa kehilangan karena kita mendapatkannya.
‎
‎Menariknya, pola yang sama bisa muncul dalam kehidupan:
‎Kita ingin menyampaikan pendapat, tapi takut membuat orang lain tidak nyaman.
‎Kita ingin mengambil kesempatan, tapi takut dianggap egois.
‎
‎Kita ingin mengatakan “tidak”, tapi takut mengecewakan.
‎
‎Kita ingin memilih sesuatu untuk diri sendiri, tapi terlalu lama memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain.
‎
‎Dan seperti kue terakhir itu...
‎akhirnya tidak ada yang mengambil.
‎Bukan karena tidak ada yang mau.
‎Tapi karena semua orang menunggu orang lain mengambilnya terlebih dahulu.
‎