Coffee and Space
Di Balik Secangkir Kopi, Ada Cerita Seorang Aktivis
![]() |
| Foto seorang aktivis dan politisi sibuk dengan ponselnya. Dok. Ronda.id |
Malam itu, di Rusty Coffee & Eatery, Kota Manado, seorang aktivis sekaligus politisi terlihat duduk di sebuah bangku kayu. Kaus merah yang dikenakannya tampak kontras dengan warna kuning dinding kedai. Kedua tangannya sibuk memegang ponsel, sementara pandangannya tertuju pada layar kecil di hadapannya.
Di belakangnya, suasana jalanan tetap hidup. Kendaraan melintas, sepeda motor terparkir di depan kedai, dan pengunjung lain menikmati waktu mereka. Namun, di meja itu, perhatian seolah sedang tertuju pada sesuatu yang berada di balik layar ponsel.
Kita tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Bisa jadi sebuah pesan, kabar terbaru, atau percakapan yang membutuhkan jawaban. Bisa juga sekadar hal-hal sederhana yang biasa dilakukan seseorang ketika memiliki waktu luang.
Tetapi, justru di situlah menariknya sebuah foto. Ia merekam satu potongan waktu, tanpa harus menjelaskan seluruh cerita di baliknya.
Sebagai seorang aktivis dan politisi, kehidupannya mungkin lebih sering bersinggungan dengan banyak orang, gagasan, kepentingan, dan berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian. Namun, di luar semua itu, ada ruang-ruang kecil yang memperlihatkan sisi keseharian seseorang - jauh dari sorotan dan hiruk-pikuk pertemuan.
Kedai kopi menjadi salah satu ruang tersebut. Di sana, seseorang bisa datang tanpa harus berbicara di depan forum. Bisa duduk, membaca pesan, berbincang dengan teman, atau menikmati jeda sebelum kembali menjalani aktivitas.
Barangkali, secangkir kopi tidak selalu menghadirkan jawaban atas persoalan yang sedang dipikirkan. Namun, bagi sebagian orang, suasana kedai kopi memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, menata pikiran, lalu melanjutkan perjalanan.
Malam terus berjalan di luar Rusty Coffee & Eatery. Sementara itu, sebuah foto telah menyimpan satu potongan kecil kehidupan: seorang aktivis dan politisi, duduk bersama ponselnya, di tengah denyut Kota Manado yang tidak pernah benar-benar diam.
Sebab, di balik peran yang dikenal banyak orang, selalu ada sisi keseharian yang berlangsung sederhana. Dan terkadang, justru dari kesederhanaan itulah sebuah cerita bermula.
