Teman Ngopi Itu Tak Akan Datang Lagi
![]() |
| “Kursi itu masih kosong. Dan kali ini, saya tahu, sosok itu tak akan mengisinya kembali.” Foto Ronda.id |
Sore itu saya duduk ngopi di salah satu kafe di seputaran Sario, Manado.
Di tengah kesibukan mengurus dan menyiapkan sebuah website untuk ronda.id, sebuah kabar datang yang membuat suasana seolah berhenti sejenak.
Seorang teman meninggal dunia.
Namanya Ronny Mongisidi. Saya biasa memanggilnya Bu Ronny.
Ia adalah orang tertua dalam lingkaran pergaulan saya. Bukan hanya karena usia, tetapi juga karena pengalaman dan cerita-cerita yang selalu ia bawa setiap kali kami bertemu di rumah kopi.
Pertemuan kami sebenarnya tidak pernah direncanakan.
Tidak ada janji.
Tidak ada agenda.
Kadang saya datang untuk ngopi, lalu Bu Ronny sudah ada di sana. Atau sebaliknya. Dari pertemuan yang kebetulan itulah, percakapan panjang sering dimulai.
Tentang banyak hal.
Tentang kehidupan. Tentang Manado. Tentang masa lalu. Tentang orang-orang yang pernah ia kenal. Dan tentu saja, tentang sejarah.
Bu Ronny punya cara sendiri ketika bercerita. Ia tidak sekadar menceritakan apa yang pernah dibacanya. Ada pengalaman keluarga, ingatan, dan cerita yang ia dengar langsung dari lingkungan keluarganya.
Salah satu yang paling sering membuat saya tertarik adalah cerita tentang Wolter Mongisidi.
Bu Ronny begitu bangga dengan sosok yang merupakan pamannya itu.
Wolter Mongisidi bukan sekadar nama dalam buku sejarah bagi Bu Ronny. Ia adalah bagian dari sejarah keluarganya.
Saya masih ingat bagaimana Bu Ronny bercerita tentang pribadi Wolter, perjalanan hidupnya, dan sisi-sisi yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Dari cerita-cerita itu, pernah terlintas dalam pikiran saya:
Suatu hari, saya harus menulis sisi lain Wolter Mongisidi yang belum banyak diketahui orang. Mungkin ada cerita keluarga yang belum pernah sampai ke media. Cerita yang hanya hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Saya pikir masih ada waktu.
Karena setiap kali bertemu, rasanya akan selalu ada kesempatan untuk melanjutkan percakapan.
Ternyata tidak.
Cerita itu belum selesai.
Pertemuan kami juga tidak pernah diagendakan. Hanya kebetulan bertemu di rumah kopi. Karena itu, selama ini saya mungkin menganggap pertemuan seperti itu akan selalu bisa terjadi.
Sekarang saya sadar, tidak semua pertemuan memiliki kesempatan kedua.
Hari ini, ketika kabar kepergian Bu Ronny sampai kepada saya di sebuah rumah kopi di Sario, ada satu hal yang terasa berbeda.
Tempat yang biasanya menjadi ruang untuk berbincang tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Tidak akan ada lagi pertemuan yang kebetulan.
Tidak akan ada lagi suara Bu Ronny yang tiba-tiba membuka sebuah cerita lama.
Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, “Bu, lanjutkan cerita yang waktu itu.”
Yang tersisa adalah ingatan.
Petuah.
Nasihat.
Dan cerita-cerita yang pernah ia bagi dengan saya di antara secangkir kopi.
Mungkin cerita tentang Wolter Mongisidi itu memang belum selesai.
Tetapi mungkin, justru karena belum selesai, cerita itu akan terus hidup di kepala saya.
Sebab ada cerita yang tidak berakhir ketika orang yang menceritakannya pergi.
Ia justru menjadi tanggung jawab orang yang pernah mendengarnya.
Bu Ronny telah pergi.
Namun percakapan-percakapan di rumah kopi itu akan tetap tinggal sebagai bagian dari perjalanan saya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, saya akan kembali membuka cerita tentang Wolter Mongisidi—bukan hanya sebagai seorang pahlawan nasional yang namanya tertulis dalam buku sejarah, tetapi sebagai seorang manusia yang pernah hidup, dicintai, dikenang, dan diceritakan oleh keluarganya.
Cerita yang dulu saya kira masih punya banyak waktu untuk ditulis.
Ternyata, waktulah yang lebih dulu selesai.
Selamat jalan, Bu Ronny.
Terima kasih untuk cerita, petuah, dan percakapan yang pernah kita bagi.
Semoga tenang di sana.
Cerita-cerita itu akan saya kenang.
