Di tengah riuh lalu lintas Jalan Ahmad Yani, Sario, Manado, paku pakis sarang tupai tampak mengering di batang-batang pohon. Di bawahnya, kehidupan kota terus bergerak, seolah tak menyadari perubahan yang terjadi di atas kepala. Alam terkadang menyampaikan ceritanya dalam diam, menunggu kita untuk berhenti sejenak dan memperhatikan. Foto: Dokumentasi Ronda.id, Kamis (8/10/2026)

Di antara kabel yang saling melintang, kendaraan yang berlalu-lalang, dan bangunan yang terus tumbuh, pohon-pohon besar di Sario masih berdiri. Diam, tetapi menyimpan cerita tentang kota yang terus berubah.

Ada yang menarik ketika kita berhenti sejenak dan melihat ke atas di tengah kesibukan Kota Manado.

Di Sario, di antara bangunan dan jaringan kabel yang membentang di udara, berdiri pohon-pohon besar dengan batang yang menjulang. Sebagian permukaannya tampak dipenuhi tumbuhan berwarna cokelat. Daun-daunnya terlihat mengering, kontras dengan rimbunnya dedaunan hijau di sekelilingnya.

Pemandangan itu menghadirkan kesan yang berbeda.

Di bawahnya, kota tetap menjalankan rutinitas. Orang-orang pergi dan pulang, kendaraan bergerak, usaha-usaha membuka pintu, dan aktivitas berlangsung seperti biasa. Barangkali tak banyak yang sempat mendongak untuk memperhatikan pohon-pohon tersebut.

Padahal, pohon tidak hadir dalam kehidupan kota hanya sebagai penghias jalan.

Ia memberi keteduhan bagi mereka yang berjalan di bawahnya. Tajuknya menjadi bagian dari lanskap yang kita lihat setiap hari. Keberadaannya juga dapat membantu mengurangi panas perkotaan dan menyediakan ruang hidup bagi berbagai makhluk kecil.

Pohon yang besar membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh. Ia melewati pergantian musim, perubahan lingkungan, dan perkembangan kawasan di sekitarnya. Ketika bangunan berubah, jalan semakin ramai, dan wajah kota perlahan berganti, pohon-pohon tua sering kali tetap berada di tempat yang sama.

Seolah-olah menjadi saksi yang tidak pernah diminta bercerita.

Namun, pemandangan di Sario ini juga menyisakan pertanyaan. Apa sebenarnya tumbuhan kecokelatan yang menutupi batang-batang itu? Apakah kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus alami tumbuhan yang menempel, atau ada persoalan lingkungan yang perlu diperiksa lebih jauh?

Jawabannya tentu tidak bisa ditentukan hanya dari sebuah foto. Diperlukan pengamatan langsung untuk mengetahui jenis tumbuhan tersebut sekaligus memastikan kondisi pohonnya.

Tetapi justru di situlah pentingnya memperhatikan sesuatu yang selama ini mungkin kita anggap biasa.

Kita sering berbicara tentang kota yang maju melalui pembangunan jalan, gedung, pusat usaha, dan berbagai fasilitas baru. Semua itu penting. Namun, kemajuan kota juga layak dilihat dari bagaimana ia merawat hal-hal yang sudah lebih dahulu ada, termasuk pepohonan yang menjadi bagian dari ruang hidup bersama.

Sebab, kota bukan hanya tempat manusia membangun sesuatu yang baru. Kota juga merupakan tempat manusia belajar menjaga apa yang telah tumbuh jauh sebelum perubahan itu datang.

Di Sario, pohon-pohon itu masih berdiri di tengah riuh kehidupan Manado.

Mungkin besok kita akan melewatinya lagi tanpa menoleh. Mungkin pula suatu hari kita baru menyadari arti keberadaannya ketika keteduhannya tak lagi bisa kita temukan.

Sebelum hari itu tiba, barangkali ada baiknya kita sesekali berhenti, mendongak, dan bertanya: sudahkah kita cukup memperhatikan pohon-pohon yang selama ini menemani perjalanan kita?

Sebab, terkadang, yang paling lama hadir di tengah kehidupan kita justru menjadi yang paling mudah kita lupakan.