Road and Trip
Ini Manado so sama deng Jakarta
![]() |
| Kondisi Jalan Bethesda Manado, Senin (5/10/2026). Foto Ronda.id |
Saya sempat kaget mendengar kalimat itu.
Kami sedang dalam perjalanan dari Manado menuju Tondano. Saya yang menyetir, sementara dua teman duduk menemani perjalanan.
“Sama deng Jakarta?” tanya saya.
Teman saya kemudian menunjuk ke arah depan.
“Coba lihat kwa eh. Jarak pandang so terbatas.”
Saya memperhatikan jalan di depan.
Baru saat itu saya sadar, ada sesuatu yang berbeda dengan pemandangan Manado yang biasanya saya kenal.
Asap seperti menggantung di udara.
Dari arah Jalan Bethesda menuju Ranotana, pada hari-hari dengan cuaca cerah, mata biasanya masih bisa menangkap Gunung Klabat dari kejauhan. Gunung itu seperti penanda alam yang sudah akrab dengan keseharian orang Manado.
Tapi hari itu, gunung seperti menghilang di balik kabut.
Bukan kabut pegunungan.
Tapi Asap.
Saya kembali memperhatikan jalan sambil menyetir.
Kalimat teman saya tadi akhirnya terasa masuk akal.
“Manado so sama deng Jakarta.”
Bukan karena Manado tiba-tiba berubah menjadi kota metropolitan dengan gedung tinggi dan kemacetan yang tak berujung.
Tetapi karena sesuatu yang selama ini terasa lebih dekat dengan cerita tentang kota-kota besar mulai hadir di sini: jarak pandang yang terganggu oleh kualitas udara.
Beberapa pekan terakhir, Sulawesi Utara memang berhadapan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan.
Data Polda Sulut mencatat hingga September 2026 terdapat 370 kejadian karhutla dengan total lahan yang terbakar mencapai 2.653,76 hektare.
Di sekitar Manado, api juga muncul di sejumlah titik.
Pada pertengahan September, kebakaran lahan dan alang-alang dilaporkan terjadi di Desa Sea Jaga I, Pineleng, kemudian Pandu, Ranotana Weru, Kima Atas dan Malalayang Satu.
Di Minahasa, kebakaran juga terjadi di Kawangkoan dan Tondano Timur.
Di Bitung, kawasan Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus ikut terdampak kebakaran. Bahkan pada satu laporan BNPB, luas area yang terdampak diperkirakan mencapai ribuan hektare dan masih dalam pendataan.
Lalu asap itu seperti menemukan jalannya sendiri.
Masuk ke ruang-ruang yang selama ini kita anggap biasa.
Masuk ke jalan yang kita lewati.
Masuk ke pemandangan kota.
Dan perlahan menghilangkan sesuatu yang sebenarnya begitu akrab.
Gunung.
Langit.
Jarak pandang.
Beberapa hari kemudian, kabar lain datang dari tempat yang bahkan mungkin tidak pernah kita bayangkan akan berhubungan dengan persoalan kebakaran lahan: Bandara Sam Ratulangi Manado.
Pada 6 Oktober 2026, kebakaran rumput terjadi di sekitar Runway 18. Asap yang cukup tebal membuat jarak pandang terganggu sehingga operasional penerbangan di bandara tersebut sempat ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.
Saya kemudian teringat perjalanan ke Tondano bersama dua teman tadi.
Saat itu kami hanya sedang berkendara.
Tidak sedang membicarakan karhutla.
Tidak sedang melakukan liputan.
Tidak sedang mencari cerita.
Kami hanya melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Dan satu kalimat sederhana dari seorang teman membuat saya mulai memperhatikannya.
“Ini Manado so sama deng Jakarta.”
Mungkin kalimat itu terdengar seperti gurauan.
Tetapi ketika jarak pandang benar-benar berkurang, ketika gunung yang biasanya terlihat dari kejauhan tiba-tiba hilang, dan ketika asap mulai memengaruhi aktivitas penerbangan, gurauan itu terasa seperti sebuah tanda.
Manado memang bukan Jakarta.
Tetapi persoalan udara yang kita hirup tidak mengenal batas kota.
Asap dari kebakaran di satu tempat bisa bergerak ke tempat lain. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado menyebut kualitas udara Manado menurun akibat dampak kebakaran hutan, lahan dan debu.
Dan mungkin, perjalanan Manado-Tondano hari itu membuat saya melihat sesuatu yang selama ini luput diperhatikan.
Bahwa sebuah kota tidak selalu berubah karena bangunan baru.
Kadang perubahan itu datang diam-diam.
Lewat udara.
Lewat langit yang mulai buram.
Lewat gunung yang tidak lagi terlihat.
Lewat perjalanan yang biasanya biasa saja, tetapi tiba-tiba membuat kita bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kota kita?
Hari itu kami terus melanjutkan perjalanan menuju Tondano.
Saya tetap menyetir.
Dua teman tetap berbicara.
Jalan tetap membawa kami ke arah yang sama.
Hanya pemandangannya yang berbeda.
Gunung Klabat masih ada di sana.
Hanya saja, hari itu kami tidak bisa melihatnya.
Dan mungkin, itulah cara alam mengingatkan kita bahwa sesuatu tidak harus hilang untuk tidak lagi terlihat.
Kadang ia hanya tertutup oleh kelalaian kita, oleh kesalahan kita, atau oleh alam itu sendiri.
