Empat jurnalis mengabadikan kebersamaan di Cola Coffee, Jalan Pemuda 1, Sario, Kota Manado, di sela-sela kesibukan masing-masing usai liputan. Dari kiri ke kanan: Mengatur H. Napitupulu, Ridho L. Tobing, Yusuf Dan Wungow, dan Alfa J. Liando. Foto Ronda.id

Ada yang datang membawa lelah setelah seharian bekerja. Ada yang mungkin masih menyimpan potongan peristiwa dari liputan yang baru saja selesai. Ada pula yang datang sekadar ingin duduk, menyeruput kopi, dan mendengar cerita kawan-kawan. Di meja yang sama, semuanya bertemu, seolah pekerjaan boleh sejenak menunggu giliran.

Sore itu, di Cola Coffee, Jalan Pemuda 1, Sario, Kota Manado, beberapa jurnalis berkumpul. Tak ada podium, tak ada mikrofon yang diarahkan kepada narasumber, dan tak ada pertanyaan yang harus dijawab secara resmi. Hanya meja kopi, gelas-gelas yang terisi, dan wajah-wajah yang sudah akrab dengan riuhnya pekerjaan sehari-hari.

Sebuah foto kemudian mengabadikan pertemuan itu.
Empat orang duduk mengelilingi meja. Sebagian tersenyum ke arah kamera, sementara yang lain menunjukkan ekspresi yang lebih tenang. Di atas meja, botol air mineral, gelas-gelas kopi, ponsel, dan benda-benda kecil lainnya menjadi saksi sederhana dari sebuah kebiasaan yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tetapi punya arti tersendiri bagi mereka yang menjalaninya.

Bagi para jurnalis, waktu luang tidak selalu benar-benar kosong. Bahkan ketika pekerjaan liputan telah usai, pikiran sering kali masih berjalan ke mana-mana. Berita yang baru ditulis, pernyataan pejabat yang perlu dicermati, kebijakan pemerintah yang mengundang pertanyaan, hingga peristiwa yang belum selesai dibicarakan, semuanya bisa kembali muncul di tengah obrolan.

Di meja kopi seperti inilah, percakapan kerap menemukan jalannya sendiri.
Topik pembicaraan sore itu bergerak dari satu persoalan ke persoalan lainnya. Kebijakan pemerintah menjadi bahan diskusi. Nama-nama tokoh dan pejabat publik ikut disebut dalam percakapan. Organisasi kepemudaan, termasuk Pemuda GMIM, turut masuk dalam pembahasan. Dunia literasi di Sulawesi Utara pun tak luput dari perhatian.

Tak ada jaminan bahwa semua pendapat akan berujung pada kesimpulan yang sama. Barangkali justru di situlah menariknya pertemuan semacam ini. Setiap orang datang dengan pengalaman, sudut pandang, dan pengetahuan yang berbeda. Ada hal yang disepakati, ada yang dipertanyakan, dan ada pula yang dibiarkan menjadi bahan renungan setelah kopi tandas.

Sebab, menjadi jurnalis bukan hanya tentang berada di lokasi peristiwa, mencatat keterangan narasumber, lalu menyusun berita untuk diterbitkan. Ada proses panjang untuk memahami keadaan, menghubungkan berbagai informasi, dan melihat persoalan dari sisi yang mungkin tidak langsung terlihat.

Percakapan di meja kopi tentu bukan pengganti kerja jurnalistik. Namun, dalam suasana yang lebih santai, gagasan bisa bertemu tanpa sekat formalitas. Pertanyaan yang belum sempat diajukan saat liputan dapat kembali dibicarakan. Hal-hal yang luput dari perhatian bisa muncul melalui cerita seorang kawan.

Dari obrolan sederhana, seseorang kadang menemukan cara pandang baru.
Namun, sore itu, percakapan tidak hanya berkutat pada pekerjaan dan persoalan publik. Ada satu ruang lain yang ikut terbuka: kenangan.
Di antara pembahasan tentang kebijakan, tokoh, organisasi, dan literasi, ingatan tentang seorang teman ngopi yang baru saja berpulang turut hadir. Sosok yang sebelumnya menjadi bagian dari kebersamaan, yang pernah duduk di antara kawan-kawan dan mengisi percakapan dengan cerita-ceritanya sendiri, kini hanya bisa dikenang.

Kepergian seseorang sering kali membuat hal-hal sederhana terasa berbeda. Kursi yang biasa ditempati, gelas kopi yang pernah dipesan, atau obrolan ringan yang dahulu dianggap biasa, mendadak memiliki arti lebih dalam ketika orang yang bersangkutan tak lagi bisa hadir.

Di tengah kesibukan, kita kadang lupa bahwa pertemuan tidak selalu bisa diulang. Kita mengira masih akan ada kesempatan untuk duduk bersama, melanjutkan cerita yang tertunda, atau sekadar bertanya kabar sambil menikmati secangkir kopi.

Sampai suatu hari, kesempatan itu tak lagi tersedia.

Mungkin karena itulah foto kebersamaan ini menjadi lebih dari sekadar dokumentasi. Ia merekam satu potongan waktu ketika beberapa kawan masih bisa duduk bersama, bertukar pikiran, tertawa, dan mengenang seseorang yang pernah menjadi bagian dari lingkaran pertemanan.

Foto itu tidak menceritakan seluruh percakapan yang berlangsung sore itu. Ia tidak merekam setiap perbedaan pendapat, setiap lelucon yang mengundang tawa, atau jeda ketika seseorang berhenti bicara untuk menyeruput kopi. Tetapi, ia menyimpan sesuatu yang tak kalah penting: bukti bahwa di tengah kesibukan masing-masing, masih ada waktu yang disediakan untuk kebersamaan.

Di luar meja itu, kehidupan akan kembali berjalan seperti biasa. Telepon mungkin berdering, pesan masuk silih berganti, agenda liputan menunggu, dan berita baru terus bermunculan. Setiap orang akan kembali ke urusannya masing-masing.
Cola Coffee pun akan kembali menjadi tempat singgah bagi banyak orang, dengan percakapan yang berbeda-beda di meja-mejanya.

Namun, bagi kami yang duduk bersama sore itu, pertemuan tersebut menyisakan cerita tersendiri. Tentang pekerjaan yang tak pernah benar-benar selesai, tentang kepedulian terhadap persoalan di sekitar, tentang dunia literasi yang perlu terus dirawat, dan tentang seorang kawan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam ingatan.

Pada akhirnya, barangkali yang membuat sebuah tongkrongan berarti bukanlah seberapa lama kita duduk di sana, atau berapa banyak persoalan yang berhasil kita bicarakan.
Melainkan siapa saja yang pernah duduk bersama kita, cerita apa yang sempat dibagikan, dan kenangan apa yang kelak tetap tinggal ketika pertemuan itu menjadi masa lalu.
Sebab, berita akan berganti, jabatan akan berubah, kebijakan akan datang dan pergi. Tetapi, di antara semua itu, persahabatan menyimpan ceritanya sendiri.

Dan terkadang, cerita itu cukup diabadikan dalam sebuah foto, di sebuah meja kopi di sudut Kota Manado, ketika waktu mengizinkan beberapa kawan untuk kembali duduk bersama.

Kopi mungkin akan habis. Obrolan mungkin akan berhenti. Tetapi, kenangan tentang mereka yang pernah hadir, akan selalu punya tempat untuk pulang.