Coffee and Space
“Kalu Mo Kerja, di Sini Lebe Pas dari di Sana”
Bukan cuma kopi dan suasana. Bagi seorang pengunjung, meja dan kursi yang nyaman juga bisa menentukan apakah sebuah kedai cocok untuk bekerja. Di Rusty Coffee & Eatery, Manado, sebuah percakapan sederhana membawa saya pada cerita tentang ruang kerja yang tak selalu berada di kantor.

"Kalu mo kerja, di sini lebe pas dari di sana,” kata seorang teman, membandingkan.
Di dekat saya, seorang teman juga menikmati waktunya. Hingga kemudian, ia melontarkan sebuah kalimat dalam bahasa sehari-hari yang terdengar sederhana.
“Kalu mo kerja, di sini (Rusty) lebe pas dari di sana.”
Maksudnya, kalau ingin bekerja, Rusty Coffee & Eatery terasa lebih cocok dibandingkan ada salah satu coffee (saya tahu maksudnya tapi sengaja tidak menulis tempatnya).
Kalimat itu membuat saya berpikir. Apa yang membuat sebuah kedai kopi terasa lebih pas untuk bekerja daripada tempat lainnya? Bukankah keduanya sama-sama menawarkan tempat untuk duduk, menikmati minuman, dan menghabiskan waktu?
Ternyata, menurut teman saya, jawabannya ada pada suasana serta hal-hal yang terkadang luput dari perhatian: meja dan kursi.
Bagi orang yang datang hanya untuk minum kopi atau mengobrol sebentar, meja dan kursi mungkin sekadar pelengkap. Namun, bagi mereka yang membawa pekerjaan, keduanya bisa menentukan kenyamanan selama berjam-jam.
Meja yang cukup luas memberi ruang untuk laptop dan perlengkapan lainnya. Kursi yang sesuai membuat seseorang lebih leluasa duduk dan berkonsentrasi. Ditambah suasana yang dirasa mendukung, sebuah kedai kopi bisa berubah menjadi ruang kerja alternatif.
Malam itu, saya sendiri sedang memanfaatkan ruang tersebut untuk bekerja. Mungkin pemandangan saya yang asyik di depan laptop turut memberi warna pada percakapan kami. Namun, alasan yang disampaikan teman saya cukup jelas: suasana, meja, dan kursi di Rusty terasa lebih cocok untuk kebutuhan bekerja.
Ketika meja kopi menjadi meja kerja
Ada perubahan kecil dalam kebiasaan masyarakat perkotaan yang menarik untuk diperhatikan. Kedai kopi tidak lagi selalu menjadi tujuan untuk membeli minuman, berbincang dengan teman, atau mengisi waktu luang.
Bagi sebagian orang, tempat seperti ini juga menjadi ruang untuk membuka laptop, menyelesaikan tulisan, membalas pesan pekerjaan, mengerjakan tugas, hingga merancang sesuatu yang mungkin tak berkaitan langsung dengan kopi yang dipesan.
Pekerjaan tidak selalu harus diselesaikan di kantor. Selama situasi memungkinkan, seseorang bisa memilih tempat yang dirasa mendukung aktivitasnya.
Namun, bekerja di kedai kopi bukan semata-mata perkara tersedia atau tidaknya jaringan internet. Ada faktor lain yang ikut menentukan pengalaman seseorang, mulai dari pencahayaan, tingkat kebisingan, posisi meja, kenyamanan kursi, hingga keleluasaan menggunakan perangkat kerja.
Bagi seseorang yang bekerja dengan laptop, meja yang terlalu sempit bisa menjadi persoalan. Begitu pula kursi yang kurang nyaman ketika harus duduk cukup lama.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru terasa penting ketika pekerjaan menuntut perhatian dan konsentrasi.
Itulah yang membuat pilihan tempat bekerja menjadi sesuatu yang personal. Kedai yang terasa nyaman bagi satu orang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain.
Kenyamanan tidak selalu harus mewah
Percakapan malam itu juga mengingatkan saya bahwa kenyamanan bekerja tidak selalu berkaitan dengan ruangan khusus, meja kantor yang besar, atau fasilitas yang serba lengkap.
Terkadang, yang dibutuhkan hanya meja yang cukup untuk membuka laptop, kursi yang mendukung posisi duduk, serta suasana yang memungkinkan pekerjaan diselesaikan tanpa terlalu banyak gangguan.
Tentu, kebutuhan setiap orang berbeda. Ada yang lebih suka suasana sunyi, sementara yang lain justru merasa lebih nyaman bekerja di tengah aktivitas orang-orang. Ada yang membutuhkan waktu singkat untuk menyelesaikan tugas, ada pula yang harus duduk berjam-jam.
Karena itu, memilih kedai kopi untuk bekerja sesungguhnya bukan sekadar memilih tempat membeli kopi. Ada pertimbangan tentang bagaimana ruang tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Dalam cerita ini, Rusty menjadi pilihan teman saya karena perpaduan suasana, meja, dan kursi yang menurutnya lebih cocok untuk bekerja dibandingkan coffee lain. Itu merupakan pengalaman dan penilaian pribadinya, bukan berarti tempat lain tidak memiliki keunggulan tersendiri.
Sebuah obrolan kecil di Manado
Saya mungkin bisa saja melewatkan percakapan itu sebagai obrolan biasa. Namun, terkadang hal menarik justru muncul dari peristiwa sederhana yang kita jumpai sehari-hari.
Saya datang dengan laptop dan pekerjaan yang perlu diselesaikan. Teman saya berada di tempat yang sama, menikmati suasana, lalu mengungkapkan pendapatnya tentang tempat yang menurutnya lebih pas untuk bekerja.
Tidak ada peristiwa besar malam itu. Hanya sebuah kedai kopi, meja, kursi, laptop, dan percakapan singkat.
Tetapi dari situ, saya kembali melihat bahwa ruang publik memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian pengunjung, kedai kopi merupakan tempat untuk melepas penat. Bagi yang lain, tempat itu bisa menjadi ruang produktif, tempat ide dirangkai dan pekerjaan dituntaskan.
Mungkin kita sering terlalu fokus pada nama kedai, jenis kopi, atau harga yang ditawarkan. Padahal, untuk orang yang ingin bekerja, hal sesederhana posisi duduk dan luas permukaan meja bisa lebih menentukan.
Malam terus berjalan. Lampu menerangi meja, laptop masih terbuka, dan aktivitas di sekitar tetap berlangsung.
Lalu, kalimat teman saya itu kembali teringat:
“Kalu mo kerja, di sini (Rusty) lebe pas dari di sana.”
Barangkali, ukuran sebuah tempat yang cocok untuk bekerja tidak selalu terletak pada seberapa terkenal namanya atau seberapa menarik menu yang ditawarkan. Terkadang, ukurannya sesederhana ini: apakah kita bisa duduk dengan nyaman, membuka laptop, lalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik?