Situasi SPBU Sario, Kota Manado, pukul 20.36 WITA, Jumat (16/10/2026). 

Jumat (16/10/2026), sore di SPBU Sario, Kota Manado, tidak hanya diwarnai aktivitas kendaraan yang datang untuk mengisi bahan bakar. Deretan mobil terlihat mengantre bensin. Kamera merekam suasana itu pada pukul 16.42 WITA.

Empat jam kemudian, pantauan berlanjut di lokasi yang sama. Pada pukul 20.36 WITA, penghalang SPBU terlihat sudah ditutup. Semenit berselang, pukul 20.37 WITA, antrean mobil untuk mendapatkan solar menjadi bagian lain dari dokumentasi malam itu.

Tiga catatan waktu, satu lokasi, dan dua jenis bahan bakar minyak (BBM). Rangkaian foto tersebut memperlihatkan situasi yang patut diperhatikan, terutama ketika antrean serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU lain di Manado.

Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata mengapa kendaraan mengantre di Sario, melainkan apa yang sedang terjadi dengan pelayanan dan distribusi BBM di Kota Manado?

Bukan hanya di Sario

Antrean di Sario bukan satu-satunya gambaran yang muncul pada hari itu.

Dalam laporan yang diterbitkan Jumat (16/10/2026), "detikSulsel melaporkan antrean Pertalite dan solar di SPBU Kairagi 1 Manado". Berdasarkan pantauan media tersebut pada pukul 11.50 WITA, antrean kendaraan mengular hingga Jalan Raya Manado–Bitung.

Antrean mobil dilaporkan mencapai sekitar 800 meter. Barisan di satu lajur didominasi truk yang hendak mendapatkan solar, sedangkan lajur lainnya dipenuhi mobil pribadi yang mengantre Pertalite. Kondisi itu turut memperlambat arus lalu lintas di sekitar SPBU.

Laporan yang sama menyebut pengemudi ojek online dan karyawan swasta mengeluhkan waktu tunggu yang mengganggu aktivitas mereka.

Pengemudi ojek online bernama Ateng, misalnya, mengaku bertahan mengantre di Kairagi 1 karena menilai antreannya lebih longgar dibandingkan SPBU lain. Ia menyebut antrean di Kairagi Weru dan Politeknik justru lebih parah.

Keluhan tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan antrean bukan hanya menyangkut kendaraan yang memenuhi jalan. Ada waktu kerja yang terpakai, perjalanan yang tertunda, dan penghasilan yang berpotensi terdampak.

Sementara itu, "ZonaUtara melaporkan pada hari yang sama" bahwa Wakapolda Sulawesi Utara Brigjen Pol Susetio Cahyadi bersama sejumlah pejabat utama Polda Sulut turun memantau antrean di SPBU Sario, Wanea, dan Boulevard.

Pemantauan tersebut menunjukkan bahwa kondisi antrean di sejumlah titik telah menjadi perhatian aparat. Namun, penyebab antrean di setiap SPBU tetap perlu diperiksa berdasarkan keadaan masing-masing lokasi.

Ketika waktu menjadi persoalan

Bagi pengendara, mengisi BBM semestinya menjadi bagian singkat dari perjalanan. Kendaraan berhenti, tangki diisi, pembayaran diselesaikan, lalu aktivitas berlanjut.

Antrean panjang mengubah rutinitas itu.

Bagi pengemudi ojek online, waktu merupakan bagian penting dari pekerjaan. Semakin lama kendaraan menunggu, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk menerima pesanan. Bagi pengangkut barang, keterlambatan juga dapat memengaruhi jadwal perjalanan.

Bagi warga yang menggunakan mobil untuk bekerja atau mengurus kebutuhan keluarga, antrean berarti harus menyesuaikan kembali waktu dan rencana perjalanan.

Karena itu, persoalan BBM tidak berhenti pada ada atau tidaknya bahan bakar. Kelancaran pelayanan dan kepastian memperoleh BBM juga menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat.

Dari Sario pada sore hingga malam hari, foto-foto yang diambil memperlihatkan dua jenis antrean dalam satu hari. Sementara di lokasi lain, laporan media merekam antrean yang bahkan memanjang hingga jalan raya.

Gambaran tersebut membuat pertanyaan tentang pasokan dan distribusi semakin relevan.

Pertamina menambah pasokan Pertalite

Di tengah antrean yang terjadi, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyampaikan langkah penguatan pasokan.

Dalam pemberitaan "Indinews.id pada 15 Oktober 2026", (https://www.indinews.id/2026/10/pertamina-tambah-3000-kl-pertalite.html), Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menjelaskan bahwa perusahaan menambah pasokan Pertalite sebanyak 3.000 kiloliter melalui Integrated Terminal Bitung.

Tambahan tersebut dibawa oleh kapal MT Naura dan ditujukan untuk memperkuat pasokan di Sulawesi Utara, khususnya Manado dan sekitarnya.

Pertamina juga menyebut sejumlah langkah lain, antara lain memantau stok dan penyaluran di setiap SPBU, mempercepat suplai ke lokasi yang persediaannya menipis, serta menempatkan petugas marshal untuk membantu mengatur antrean.

Dalam keterangannya, Pertamina berharap tambahan....bersambung: 

Antrean Bensin Sore, Antrean Solar Malam: Ada Apa dengan BBM di Manado? Bagian 2