Paku pakis sarang tupai (Drynaria quercifolia) tampak mengering pada batang pohon di Jalan Ahmad Yani, Sario, Kota Manado, 8 Oktober 2026. Kondisi ini terlihat di tengah musim kemarau dan fenomena El Niño yang turut memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Penyebab langsung mengeringnya tumbuhan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Foto: Dokumentasi Ronda.id

Di antara lalu lintas kendaraan dan bangunan yang berdiri di kawasan Sario, ada pemandangan yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Batang-batang pohon besar tampak diselimuti tumbuhan berwarna cokelat. Daunnya mengering, bergelantungan di antara rimbunnya dedaunan hijau yang masih bertahan di sekelilingnya.

Pemandangan itu terekam dalam sebuah foto di Jalan Ahmad Yani, Sario, Kota Manado, pada 8 Oktober 2026.

Sekilas, tumbuhan yang menutupi batang pohon itu tampak seperti bagian dari pepohonan yang telah mati. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada cerita lain di baliknya.

Tumbuhan tersebut dikenal sebagai paku pakis sarang tupai (Drynaria quercifolia), yang juga disebut paku sisik naga besar atau oakleaf fern. Tumbuhan paku ini hidup sebagai epifit, yakni menumpang tumbuh pada tumbuhan lain, terutama batang atau cabang pohon, tanpa mengambil makanan langsung dari jaringan hidup inangnya. Spesies ini memang dikenal tumbuh di kawasan tropis, termasuk Sulawesi.

Keberadaannya bukan sesuatu yang asing di alam tropis. Batang pohon yang telah lama tumbuh dapat menjadi tempat bagi berbagai tumbuhan epifit untuk menetap. Mereka memanfaatkan ruang pada permukaan pohon sebagai tempat hidup, sementara air dan unsur hara diperoleh dari lingkungan sekitarnya.

Namun, tumbuhan yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan hijau itu kini tampak kecokelatan dan kering.

Ada perubahan yang terlihat, meskipun penyebab pastinya tidak dapat dipastikan hanya melalui sebuah foto.

Ketika musim kering datang

Pemandangan di Sario ini hadir ketika Indonesia sedang menghadapi kondisi iklim yang kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal Oktober 2026 melaporkan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah di Sulawesi Utara.

El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya terhadap pola hujan berbeda-beda menurut wilayah, tetapi di Indonesia fenomena ini dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering.

Ketika hujan berkurang, lingkungan tempat tumbuhan hidup ikut berubah. Ketersediaan air menurun, sementara paparan panas dan penguapan dapat meningkatkan tekanan terhadap tumbuhan.

Bagi tumbuhan epifit seperti paku pakis sarang tupai, kondisi tersebut menjadi hal yang patut diperhatikan. Tumbuhan ini hidup di atas permukaan pohon dan bergantung pada kelembapan serta air yang tersedia di lingkungannya. Sejumlah bagian tumbuhan dapat mengering ketika menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan.

Musim kemarau dan El Niño menjadi konteks yang masuk akal untuk memahami pemandangan tersebut. Meski demikian, untuk memastikan bahwa keduanya merupakan penyebab langsung mengeringnya tumbuhan di Jalan Ahmad Yani, diperlukan pemeriksaan kondisi tumbuhan dan lingkungan setempat.

Sebab, apa yang terlihat di permukaan belum tentu menceritakan seluruh proses yang sedang berlangsung.

Pohon yang tetap berdiri, kota yang terus bergerak

Di bawah pepohonan itu, kehidupan kota berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas, orang-orang menjalankan aktivitas, dan bangunan menjadi bagian dari wajah Manado yang terus berkembang.

Tidak semua orang punya waktu untuk berhenti dan memperhatikan apa yang terjadi pada pohon di tepi jalan. Apalagi tumbuhan yang menempel pada batangnya sering dianggap sekadar bagian dari pemandangan.

Padahal, pohon dan tumbuhan yang hidup di sekitarnya merupakan bagian dari lingkungan perkotaan. Pepohonan membantu menyediakan keteduhan, mendukung kehidupan berbagai organisme, dan ikut membentuk kondisi lingkungan di sekitarnya.

Ketika salah satu bagian dari lingkungan itu menunjukkan perubahan, ada baiknya kita memberi perhatian.

Bukan untuk langsung menyimpulkan bahwa alam sedang rusak, melainkan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Apakah tumbuhan itu hanya mengalami kekeringan sementara? Apakah masih ada bagian yang hidup dan berpotensi tumbuh kembali ketika kelembapan membaik? Ataukah kondisi pohon dan tumbuhan tersebut memerlukan penanganan lebih lanjut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membutuhkan pengamatan, bukan sekadar dugaan.

Tanda kecil yang layak diperhatikan

Foto dari Jalan Ahmad Yani ini mungkin tidak memperlihatkan bencana besar. Tidak ada pohon tumbang, banjir, atau kebakaran yang memenuhi jalan. Yang terlihat hanyalah tumbuhan paku yang mengering di batang pohon, di tengah aktivitas kota yang terus berlangsung.

Namun, terkadang perhatian terhadap lingkungan justru dimulai dari hal-hal kecil seperti ini.

Kita terbiasa merasakan dampak perubahan alam ketika akibatnya sudah nyata: air semakin sulit diperoleh, udara terasa lebih panas, atau pepohonan kehilangan keteduhannya. Padahal, perubahan lingkungan juga dapat diamati melalui hal-hal sederhana yang hadir di sekitar kita.

Tentu, satu foto tidak cukup untuk membuktikan dampak El Niño terhadap seluruh ekosistem perkotaan Manado. Namun, foto ini dapat menjadi pengingat untuk mengamati lingkungan dengan lebih saksama, terutama ketika musim kering berlangsung.

Kota yang baik bukan hanya kota yang terus membangun, tetapi juga kota yang memperhatikan kehidupan yang tumbuh di antara bangunan dan jalan-jalannya.

Pada akhirnya, pohon-pohon di Jalan Ahmad Yani itu masih berdiri. Di batangnya, paku pakis sarang tupai yang mengering menyisakan sebuah pemandangan yang mengundang pertanyaan.

Mungkin kita selama ini terlalu sibuk melihat jalan di depan hingga lupa memperhatikan apa yang tumbuh di atas kepala.

Padahal, alam tidak selalu menyampaikan pesannya melalui peristiwa besar. Kadang, ia cukup memperlihatkan daun-daun yang berubah cokelat, lalu membiarkan kita memutuskan apakah akan terus berlalu atau berhenti sejenak untuk memahami.

Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan sesuatu ketika sudah terancam. Menjaga lingkungan juga berarti belajar mengenali perubahan, bahkan ketika tanda-tandanya masih tampak sederhana.